Budaya Aksara dilestarikan di jalan

Aksara Makassar Yang Unik
            Sejalan dengan otonomi daerah, banyak wilayah yang memang pada dasarnya memiliki kebudayaan kuat, berusaha menonjolkan kebudayaannya tersebut. Salah satu ciri yang umum ditonjolkan adalah kebudayaan lokal dalam bentuk aksara. Contoh paling jelas dalam penerapan aksara ini adalah di rambu penunjuk nama jalan raya. Nama jalan dalam bahasa Indonesia berada di bagian atas dan di bawahnya tercantum nama jalan asli dalam aksara setempat.

           Makassar memiliki aksaranya sendiri, banyak dipakai pada jaman Kerajaan Gowa-Tallo. Selain Makassar, ada sejumlah daerah yang saya amati memiliki aksara yang ditonjolkan lewat nama jalan, misalnya Bali, Yogyakarta dan Pangkal Pinang. Ini menjadi unik, sebab aksara Makassar berbentuk siku seperti tanda staccato dalam music maupun kebalikannya dan variasi dari keduanya. Penulisan nama jalan dalam aksara setempat ini hanya berlaku di Makassar saja. Saya tidak melihat adanya upaya serupa dari pemda daerah lain di Sulawesi Selatan. Entah mungkin saya tidak melihatnya atau bisa jadi aksara yang digunakan sudah berbeda atau daerah lain tidak memiliki kekhasan aksara atau bagaimana yach mungkin ada sebab lain? Soalnya di Makassar sendiri, tidak semua jalan diberikan aksara Makassar di bagian bawahnya. Saya hanya bertemu aksara Makassar di seputaran pusat kota saja.


Source : http://allaboutmakassar.blogspot.com/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Taman Nasional Bantimurung Surga Kupu-kupu di Maros


Taman Nasional Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menjadi salah satu tempat wisata yang paling digemari wisatawan, baik lokal, nasional maupun mancanegara. “Taman Nasional Bantimurung yang mempunyai banyak keunikan menjadikannya sebagai salah satu tempat tujuan wisata maupun rekreasi,” kata petugas Taman Nasional Bantimurung, Abidin di Maros, Minggu (29/11).

            Ia mengatakan, Taman Nasional Bantimurung merupakan taman wisata alam yang paling membanggakan masyarakat Sulawesi Selatan. Karena lokasinya terdapat di lembah bukit kapur yang curam dengan vegetasi tropis.

           Tidak heran, kawasan ini juga menjadi area pertambangan batu kapur sebagai bahan baku semen. Sayangnya, aktivitas seperti ini jika terus dilanjutkan akan sangat merusak alam dan potensi wisata itu sendiri.

          Taman Alam Bantimurung juga terkenal dengan air terjun, gua, dan kupu-kupunya. Tempat ini hanya berjarak lebih kurang 30 kilometer (km) dari Kota Makassar.

          Abidin menjelaskan, jenis kupu-kupu di museum kupu-kupu Bantimurung juga memliki dua buah gua yang bisa dimanfaatkan sebagai wisata minat khusus, Gua Batu, dan Gua Mimpi.


         “Bantimurung dikenal sebagai surganya kupu-kupu karena semua spesiesnya ada di sini. Sedikitnya ada 20 spesies kupu-kupu yang dilindungi pemerintah dan ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah No 7/1999,” katanya.

          Beberapa spesies unik hanya terdapat di Sulsel, yaitu Troides helena Linne, Troides hypolitus Cramer, Troides haliphron Boisduval, Papilo adamantius, dan Cethosia myrana.
Ia mengatakan, pada 1856-1857 Alfred Russel Wallace menghabiskan sebagian hidupnya di sini untuk meneliti berbagai jenis kupu-kupu. “Wallace menyatakan Bantimurung merupakan ’The Kingdom of Butterfly’ (kerajaan kupu-kupu),” katanya.

         “Karena itu, berdasarkan penelitian orang Inggris ada 150 spesies kupu-kupu di sini dan inilah yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan,” ucapnya.


Source : http://allaboutmakassar.blogspot.com/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Asal-usul kuburan di tengah lapangan Karebosi,Makassar


Ramalan Tujua Ri Karebosi– Karebosi yang merupakan nol kilometernya Kota Makassar memang banyak menyimpan sejarah dan Misteri, dan yang paling Misteri adalah di lapangan ini terdapat 7 buah Kuburan, yang sampai saat ini masih dipertahankan, dan bahkan telah ikut dipugar setelah lapangan Karebosi di Revitalisasi.
Lapangan Karebosi Pra Revitalisasi

Lapangan Karebosi Pra Revitalisasi

            Pada masyarakat Sulsel, memang lapangan ini kental dengan cerita mistik, dan salah satu diantaranya adalah Ramalan Tujua Ri Karebosi. Berikut ini isi dari ramalan tersebut (Dalam bahasa Makassar):

Ramalan Tujua Ri karebosi

            Tujui saribattang salapangi silasukkang ruaya ni tarekapi nanigappa sabba ia ammantang ri tassere-serea ammiliki alanga lolong bonena. Annang burane sere baine, bainea buranne tongi, ia bungko ia tongi ulua, Pagawena karebosi lomoro serea.

            Nipattangnanganko sallang kadera tuju batunna ri Karebosi, annang kaboneang, sere kosong, nia sallang abbara-barrasa, urusangi na cica, iamintu kosong kaderana, saba tunai na kamase.

            Mingka punna nuassengji karaengnu ribatangkalennu salama makontu. Cilakako punna nu onjoki Karebosi. Tau upa ammantanga ri Ballana amempo-mempo, lanri naissengna kalenna, naisseng karaenna. Lana sareko sallang Barisallangna Sitti Fatimah, sahada simula-mulannapa linoa nubaliangi nanatarima, lanisuroko sallang assahada assahadako ribunoinjako, tasahadako nibunoinjako.

            Lanikutanangko sallang tau battu kemaeko, kemaeko lassu, kemaeko ammantang, inai mpaparekangko balla, inai mantang, siapa bentengna, siapai padaseranna ballanu, siapa sulapana balannu, siapai panyingkuluna ballanu, inai lalang dudu, inai ri lasatangana, inai pantara dudu, inai imannu, assambayang jako, addalekemaeko punna sambayangko, inai imannu, paui tojeng-tojeng Imannu.

            Lanisuroko sallang anjojo karaeng, lani suro tongko sallang anjojo banderana karaengnu.

            Inai-nai tangissengai banderana karaengna, tangissengai karaengna, lani erangi sallang ri Karebosi ammile sala serenna nijojo, kalani pattannangko salllang bandera sampuloanrua rupanna, talluji bandera lamantang ri sulawesi sallatang, salapang bandera lamae riluar negeri, nia lamange ri butta Cina, Butta Balanda, Butta Jawa, Butta Japang.

            Iaji Anjo lammantang ri Sulawesi Sallatang Bnaderana Tau lu’ ka, tau bonea na tau Gowaya. Kajappui karaennu baji-baji punna eroko salama.

            Ia mami sallang tau rangranga ri ada, ingaka ri kuntu tojeng, Tau jarreka ri papasangna tau toana la salama, Jai-jaina taggalaki pappasanga, jai-jaina salama, kurang-kurangna tanggala papasanga, kurang-kurang salama. Punna tena antaggalaki Pappasangna tau toana, Linoa ancuru, insaalla Tumbangi bawakaraeng, Tallangi jumpandang ….

            Ramalan diatas sampai saat ini masih hidup dikalangan masyarakat Sulsel, khususnya di pelosok.Ramalan tujua ri Karebosi, pada intinya memiliki makna historis lapangan Karebosi, Dimana di karebosi sampai saat ini ada tujuh buah kuburan Misteri, kuburannya masih ada sampai sekarang, dari cerita rakyat diatas, maka ketujuh kuburan ini adalah kubur dari 7 orang bersaudara yang sakti dan juga penguasa Karebosi.
ramalan tujua ri Karebosi

Kuburan Tujuh Karebosi

            Pada ramalan diatas juga menyinggung tentang suatu saat (maksudnya zaman sekarang) akan ada peristiwa di Karebosi, yakni rakyat diarak untuk memilih pemimpin atau pemerintahannya, dan memang ramalan diatas sudah terjadi, karena setiap Pemilu so pasti lapngan Karebosi selalu menjadi lapangan tempat kampanye baik para caleg, kampanye kepala daerah maupun kampanye Presiden.

            Pada ramalan diatas juga disisipi sebuah kepercayaan khas orang Sulsel dahulu kala, dimana kalau dipelajari ramalan diatas akan tampak kental antara akulturasi kepercayaan lokal orang Sulsel dengan agama Islam.


Source : http://allaboutmakassar.blogspot.com/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sejarah Perdagangan Makassar Dan Dunia Internasional



Awal Kota dan bandar Makassar berada di muara sungai Tallo dengan pelabuhan niaga kecil di wilayah itu pada penghujung abad XV. Sumber-sumber Portugis memberitakan, bahwa bandar Tallo itu awalnya berada dibawah Kerajaan Siang di sekitar Pangkajene, akan tetapi pada pertengahan abad XVI, Tallo bersatu dengan sebuah kerajaan kecil lainnya yang bernama Gowa, dan mulai melepaskan diri dari kerajaan Siang, yang bahkan menyerang dan menaklukan kerajaan-kerajaan sekitarnya.
Akibat semakin intensifnya kegiatan pertanian di hulu sungai Tallo, mengakibatkan pendangkalan sungai Tallo, sehingga bandarnya dipindahkan ke muara sungai Jeneberang, disinilah terjadi pembangunan kekuasaan kawasan istana oleh para ningrat Gowa-Tallo yang kemudian membangun pertahanan benteng Somba Opu, yang untuk selanjutnya seratus tahun kemudian menjadi wilayah inti Kota Makassar.
Pada masa pemerintahan Raja Gowa XVI, didirikan pula Benteng Rotterdam di bagian utara. Pemerintahan Kerajaan masih dibawah kekuasaan Kerajaan Gowa. Pada masa itu terjadi peningkatan aktifitas pada sektor perdagangan lokal, regional dan Internasional, komoditi ekspor utama Makassar adalah beras, yang dapat ditukar dengan rempah-rempah di Maluku maupun barang-barang manufaktur asal Timur Tengah, India dan Cina di Nusantara Barat.

            Dari sejarah ahli Portugal maupun catatan-catatan lontara setempat, diketahui bahwa Saudagar Melayu berperan penting dalam perdagangan barter yang berdasarkan pertukaran surplus pertanian dengan barang-barang impor. Dengan menaklukkan kerajaan¬kerajaan kecil disekitarnya, yang pada umumnya berbasis agraris pula, maka Makassar meningkatkan produksi komoditi pertanian. Bahkan, dalam menyerang kerajaan-kerajaan kecil lainnya, para ningrat Makassar bukan hanya menguasai kawasan pertanian lawan-tawannya, akan tetapi berusaha pula untuk membujuk dan memaksa para saudagar setempat agar berpindah ke Makassar, sehingga kegiatan perdagangan semakin terkonsentrasi di bandar niaga baru tersebut.
Dalam hanya seabad saja, Makassar berubah menjadi salah satu kota niaga terkemuka dunia yang dihuni lebih 100.000 orang (dan dengan ini termasuk ke-20 kota terbesar dunia. Sebagai perbandingan, pada zaman itu jumlah penduduk Amsterdam, kota terbesar musuh utamanya, Belanda, baru mencapai sekitar 60.000 orang) yang bersifat kosmopolitan dan multikultural. Perkembangan bandar Makasar yang demikian pesat berkat perubahan-perubahan pada tatanan perdagangan internasional masa itu. Pusat utama jaringan perdagangan di Malaka, ditaklukkan oleh Portugal pada tahun 1511, demikian pula di bagian utara Jawa semakin berkurang pengaruhnya karena kekalahan armada lautnya di tangan Portugal, serta pengkotak-kotakan jawa dengan kerajaan Mataram. Bahkan ketika Malaka diambil-alih oleh Kompeni Dagang Belanda VOC pada tahun 1641, banyak pedagang Portugis ikut berpindah ke Makassar.
Pada pertengahan pertama abad ke-17, Makassar berupaya merentangkan kekuasaannya ke sebagian besar Indonesia Timur dengan menaklukkan Pulau Selayar dan sekitarnya, kerajaan-kerajaan Wolio di Buton, Bima di Sumbawa, Banggai dan Gorontalo di Sulawesi bagian Timur dan Utara serta mengadakan perjanjian dengan kerajaan-kerajaan di Seram dan pulau-pulau lain di Maluku. Secara internasional, sebagai salah satu bagian penting dalam Dunia Islam, Sultan Makassar menjalin hubungan perdagangan dan diplomatik yang erat dengan kerajaan-kerajaan Banten dan Aceh di Indonesia Barat, Golconda di India dan Kekaisaran Otoman di Timur Tengah.
Para ningrat Makassar dan rakyatnya dengan giat ikut dalam jaringan perdagangan internasional, dan interaksi dengan komunitas kota yang kosmopolitan itu menyebabkan sebuah “creative renaissance” yang menjadikan Bandar Makassar salah satu pusat ilmu pengetahuan terdepan pada zamannya. Koleksi buku dan peta, sesuatu yang pada zaman itu masih langka di Eropa, yang terkumpul di Makassar, konon merupakan salah satu perpustakaan ilmiah terbesar di dunia, dan para sultan tak segan-segan memesan barang-barang paling mutakhir dari seluruh pelosok bumi, termasuk bola dunia dan teropong terbesar pada waktunya, yang dipesan secara khusus dari Eropa. Ambisi para pemimpin Kerajaan Gowa-Tallo untuk semakin memperluas wilayah kekuasaan serta persaingan Bandar Makassar dengan Kompeni Dagang Belanda VOC berakhir dengan perang paling dahsyat dan sengit yang pernah dijalankan Kompeni.
Pada awalnya, kegiatan perdagangan utama di bekas Bandar Dunia ini adalah pemasaran budak serta menyuplai beras kepada kapal-kapal VOC yang menukarkannya dengan rempah-rempah di Maluku. Pada tahun 30-an di abad ke-18, pelabuhan Makassar dibuka bagi kapal-kapal dagang Cina. Komoditi yang dicari para saudagar Tionghoa di Sulawesi, pada umumnya berupa hasil laut dan hutan seperti teripang, sisik penyu, kulit kerang, sarang burung dan kayu cendana, sehingga tidak dianggap sebagai langganan dan persaingan bagi monopoli jual-beli rempah-rempah dan kain yang didirikan VOC.
Sebaliknya, barang dagangan Cina, Terutama porselen dan kain sutera, dijual para saudagarnya dengan harga yang lebih murah di Makassar daripada yang bisa didapat oleh pedagang asing di Negeri Cina sendiri. Adanya pasaran baru itu, mendorong kembali aktivitas maritim penduduk kota dan kawasan Makassar. Terutama penduduk pulau-pulau di kawasan Spermonde mulai menspesialisasikan diri sebagai pencari teripang, komoditi utama yang dicari para pedagang Cina, dengan menjelajahi seluruh Kawasan Timur Nusantara untuk mencarinya.
Bahkan, sejak pertengahan abad ke-18 paranelayan-pelaut Sulawesi secara rutin berlayar hingga pantai utara Australia, dimana mereka tiga sampai empat bulan lamanya membuka puluhan lokasi pengolahan teripang. Sampai sekarang, hasil laut masih merupakan salah satu mata pencaharian utama bagi penduduk pulau-pulau dalam wilayah Kota Makassar.
Setelah Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menggantikan kompeni perdagangan VOC yang bangkrut pada akhir abad ke-18, Makassar dihidupkan kembali dengan menjadikannya sebagai pelabuhan bebas pada tahun 1846. Tahun-tahun berikutnya terjadi kenaikan volume perdagangan yang pesat, dan kota Makassar berkembang dari sebuah pelabuhan backwater menjadi kembali suatu bandar internasional. Dengan semakin berputarnya roda perekonomian Makassar, jumlah penduduknya meningkat dari sekitar 15.000 penduduk pada pertengahan abad ke-19 menjadi kurang lebih 30.000 jiwa pada awal abad berikutnya. Makassar abad ke-19 itu dijuluki “kota kecil terindah di seluruh Hindia-Belanda” (Joseph Conrad, seorang penulis Inggris-Polandia terkenal), dan menjadi salah satu port of call utama bagi baik para pelaut-pedagang Eropa, India dan Arab dalam pemburuan hasil-hasil hutan yang amat laku di pasaran dunia maupun perahu-perahu pribumi yang beroperasi di antara Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.

Source : http://www.kabarkami.com/?p=121




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS