Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Sejarah Panjang Harian Fajar


Mari kita bicara tentang sejarah Fajar. Surat kabar harian terbesar di luar pulau Jawa dan pemimpin pasar di Indonesia Timur. Surat kabar berumur 29 tahun dan berpusat di Makassar ini juga merupakan induk dari banyak telur: Ujung Pandang Ekspres, Berita Kota Makassar, Timor Ekspres, Ambon Ekspress, Kendari Ekspres, Kendari Pos, Radar Buton, Radar Bone, Radar Sulbar, Palopo Pos, Pare Pos, Radar Bulukumba, dan lainnya.

Surat Kabar KAMI

Saat itu, riuh aksi para mahasiswa angkatan 1966. Di bawah organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), mereka menentang kesewenang-wenangan pemerintah yang berkuasa. Sebagai wadah bersuara, aktifis KAMI menerbitkan surat kabar harian KAMI. Untuk wilayah Sulawesi Selatan, KAMI dikomandoi oleh Alwi Hamu, mahasiswa teknik yang saat itu juga menjabat sebagai Sekertaris Jenderal KAMI wilayah Sulawesi Selatan.

Bermodalkan pinjaman dari ayahnya, Haji Muhammad Syata, Alwi mengelola KAMI di jalan Laiya Makassar. Dibantu beberapa teman, dia men-setting isi dan tampilan KAMI. Setelah jadi, hasil setting-nya dibawa dengan berkendaraan becak ke Percetakan Makassar untuk dicetak. Surat kabar ini, bersama banyak surat kabar lainnya di seluruh Indonesia, dibredel ramai-ramai pemerintah pada 1970.

Majalah Intim dan Surat Kabar Tegas

Setelah KAMI mati, jiwa jurnalistik Alwi tidak ikut mati, tetap menggelora. Pada 1972, bersama Mattulada, Rahman Arge, Husni Djamaluddin, dan Arsal Alhabsi, dia mendirikan majalah Intim yang dibiayainya sendiri.

Pada 1978, Alwi diajak Syamsuddin D. L. bergabung dengan surat kabar Tegas dengan jabatan Wakil Pemimpin Umum. Dia kemudian membeli mesin cetak untuk mendukung penerbitan Tegas. Karena ketidaksepahaman dengan manajemen, dia memilih mundur meskipun telah banyak mengorbankan modal pribadinya.

Terbitlah Fajar

Sekeluar dari Tegas, Alwi berpikir untuk mendirikan surat kabar sendiri. Bersama Harun Rasyid Djibe dan Sinansari Ecip, dia menerbitkan Fajar. Surat izin dengan susah payah diraih dari Departemen Penerangan yang dipimpin Harmoko.

Kantor Ahmad Yani

Pertama beroperasi pada 1981, Fajar mengontrak kantor di jalan Ahmad Yani nomor 15 Makassar, tepatnya di gedung kantor bekas percetakan dan toko buku Druckey milik Belanda yang kemudian dinasionalisasi menjadi percetakan Bhakti. Kantor Ahmad Yani sangat sederhana. Saking sederhananya, WC-nya pun tidak ada.

Tiga Wartawan

Dengan menggunakan peralatan mesin ketik, Fajar beroperasi dengan hanya mengandalkan tiga wartawan: Abun Sanda (sekarang pejabat di Kompas Group), Aidir Amin Daud (sekarang penulis), dan Hamid Awaluddin (sekarang Duta Besar Rusia). Untuk urusan administrasi dan keuangan, diserahkan kepada Syamsu Nur (sekarang Direktur Utama Fajar Group).

Selanjutnya, seiring perkembangan keredaksian, berdatanganlah wartawan-wartawan lain: Baso Amir, Ismantoro, Rudy Harahap, Burhanuddin Bella, Ridwan Effendy, dan lainnya. Ketika itu, mereka masih bekerja tanpa memikirkan gaji yang diterima. Maklumlah, mereka semua masih berstatus mahasiswa yang hidup ditanggung orang tua. Mereka juga berpikir: Fajar adalah tempat belajar.

Reposisi dan Masa Sulit

Dalam perjalanannya, Harun Rasyid Djibe mengundurkan diri, begitu juga Sinansari Ecip yang hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah S3. Selanjutnya, Alwi mengajak dua sahabatnya: Jusuf Kalla dan Aksa Mahmud. Operasional Fajar kemudian diuntungkan dengan dipercayainya Jusuf Kalla sebagai pengelola Percetakan Makassar milik Pemerintah Daerah Makassar. Oleh Jusuf, percetakan tersebut kemudian diserahkan kepada Alwi untuk dikelola dan dikembangkan.

Hingga 1988, Fajar masih dalam masa sulit, rugi terus. Apalagi saat itu terdapat surat kabar besar yang menguasai pasar: Pedoman Rakyat. Bahkan, Jusuf Kalla, yang saat itu juga sedang mengembangkan NV Hadji Kalla, sering mengeluh karena sudah banyak modal yang dia investasikan untuk mengembangkan Fajar, tapi Fajar tetap merugi.


Kerja Sama Dengan Jawa Pos Grup

Langkah strategis diambil pada akhir tahun 1988: Fajar bergabung dengan Jawa Pos Grup yang dipimpin Dahlan Iskan. Saat itu, Dahlan memang ingin membuka surat kabar di Makassar. Dahlan bertemu Alwi lewat perantara Sinansari Ecip dan Eric Samola.

Kerja sama ini mengangkat semangat kerja para awak Fajar. Perbaikan dan perubahan dilakukan di semua lini: administrasi, keuangan, dan redaksi. Komputer PC sederhana tipe XT pun diadakan untuk semua meja wartawan. Tujuannya: mempercepat proses pekerjaan. Para wartawan juga diberi kesempatan secara bergilir untuk magang di Jawa Pos.

Walaupun kerja sama dengan Jawa Pos berjalan progresif. Namun kesejahteraan karyawan belum diperhatikan. Dampaknya, banyak wartawan potensial yang memilih mengundurkan diri meskipun telah banyak mendapat ilmu dari Fajar, semisal Abun Sanda yang hijrah ke Kompas (saat ini sudah menjabat Wakil Pemimpin Umum Kompas). Banyak pula calon wartawan potensial yang menolak masuk ke Fajar karena persoalan kesejahteraan.

Kantor Racing Centre

Kerja sama dengan Jawa Pos membuat oplah Fajar meningkat secara perlahan tapi pasti, begitu juga iklannya, mulai mengalir deras. Peningkatan ini membuat niat untuk pindah kantor muncul. Apalagi kantor Ahmad Yani dirasakan sudah tidak bisa lagi mendukung perkembangan Fajar. Dan memang Pemerintah Daerah Makassar sudah mau menjual gedung itu.

Pilihan lokasi gedung kantor baru jatuh di tanah milik Jusuf Kalla di jalan Racing Centre Makassar. Uang hasil oplah dan iklan dikumpulkan untuk membangun gedung di atas tanah itu, tanpa bantuan kredit bank. Hasilnya, pada 1991, gedung kantor Racing Centre diresmikan. Gedung mewah 3 lantai dengan halaman yang cukup luas.

Mesin cetak baru juga diadakan untuk menambah kualitas surat kabar. Fajar tampil berwarna. Oplah dan iklannya pun semakin bersinar. Fajar kemudian berkembang pesat menjadi pemimpin utama pasar menyingkirkan Pedoman Rakyat yang bangkrut. Kesejahteraan karyawan juga ikut meningkat.

Surat kabar-surat kabar dalam dan luar daerah Makassar mulai dikembangkan: Ujung Pandang Ekspres, Berita Kota Makassar, pare pos, palopo pos, kendari pos, dan lainnya. Televisi dan radio juga didirikan meskipun sinarnya tidak sekilau surat kabar. Fajar juga mengembangkan sayap ke bisnis nonmedia: universitas, agrobisnis, transportasi, dan lainnya.

Kantor Racing Centre menjadi saksi bagaimana Fajar selama kurun waktu 16 tahun (1991-2007) merangkak naik menjadi yang terbesar di luar pulau Jawa dan pemimpin pasar di Indonesia Timur. Posisi tertinggi dalam level bisnis surat kabar.

Kantor Graha Pena

Trend bisnis yang semakin berkembang, anak perusahaan yang semakin menjamur, dan jumlah karyawan yang semakin banyak membuat keadaan kantor Racing Centre dirasakan sudah tidak mampu lagi mengakomodasi semuanya. Rencana membangun kantor yang lebih besar pun dicetuskan.

Mengadopsi model kantor milik Jawa Pos Group, Fajar membangun gedung kantor Graha Pena di jalan Urip Sumoharjo nomor 20 Makassar. Diresmikan pada awal 2008, gedung Graha Pena dengan 20 lantai menjadi gedung tertinggi pertama di luar pulau Jawa. Fungsinya bukan hanya sebagai kantor bagi Fajar dan anak perusahaannya, tapi juga dipersewakan kepada khayalak umum untuk ruang kantor maupun untuk pelbagai kegiatan. Kantor Racing Centre kemudian menjadi Universitas Fajar.

Fajar Digital

Perkembangan internet yang pesat menyebabkan Fajar sebagai surat kabar terimbas trennya: membuat surat kabar digital, surat kabar melalui website di internet. Pada 2009, diterbitkan fajar.co.id. Fajar pun bisa dinikmati dan diakses bebas melalui internet.

Fajar: Sekarang dan Masa Depan
Dalam siklus bisnis, Fajar sekarang berada dalam posisi teratas. Misinya sekarang sederhana saja: mempertahankan posisi untuk tetap menjadi yang teratas. Tantangan yang berat, mengingat surat kabar pesaing mulai bermunculan dan berkembang: Seputar Indonesia, Tribun Timur, dan Koran Tempo.

Mulai sekarang, Fajar harus melakukan kaderisasi yang baik, terlebih Alwi Hamu dan Syamsu Nur sebagai pemimpin Fajar sudah semakin renta dimakan usia. Pengalaman Pedoman Rakyat yang mati karena buruknya kaderisasi bisa menjadi cermin untuk tidak mengalami hal yang sama.[]

Sumber:http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2010/12/02/sejarah-panjang-harian-fajar/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Visit Makassar 2011, Ayo ke Makassar!


Kota Makassar sepertinya tidak mau jadi peserta saja dalam berbagai kesempatan dan program pariwisata Indonesia. Menjadi penggagas VISIT MAKASSAR 2011 adalah merupakan langkah awal pemerintah kota Makassar untuk menunjukan keseriusanya menggarap lahan pariwisata yang sangat potensial, karena selama dunia ada, manusia akan selalu berwisata. Dapat dikatakan pariwista tidak akan mati selama manusia hidup.
Program Visit Makassar and Beyond 2011 diharapkan menjadi momentum awal bangkitnya industri pariwisata di Sulawesi Selatan dan Kota Makassar khususnya. Makassar yang merupakan kota berlandaskan kearifan lokal mempunyai alam yang indah seperti wisata alam nasional Bantimurung Kabupaten Maros, bangunan rumah adat Toraja, serta beberapa tempat tujuan wisata lainnya.
Program Visit Makassar merupakan sebuah program yang terarah dan berkesinambungan untuk meningkatkan sektor pariwisata dari tahun 2011 hingga 2014. Program ini lahir bukan saja sebagai wujud apresiasi Pemkot Makassar untuk menopang program Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata setiap tahunnya. Program ini tentunya akan berjalan dengan baik jika semua pihak-pihak terkait ikut bekerjasama untuk mensukseskan program pariwisata ini.
Visit Makassar 2011 yang berlangsung selama satu tahun ini menggelar serangkaian kegiatan berskala internasional dalam kalender kegiatandi antaranya berikut ini.
Januari
- Makassar MICE Outlook

Februari
- Karnaval Cap Go Meh
- Festival Barongsai ASEAN
- International Youth Meeting
- Upacara adat Maudu Lompoa

Maret
- Festival Perkusi Nusantara
- Mega Bazaar Computer

April
- Lomba lari Makassar 10K
- Fun Race Dragon Boat
- FEMME 2011
- Makassar International Festival
- Paskah Oikumene 2011 (Easter Day)
- Pemilihan Dara dan Daeng Makassar

Mei
- Makassar Bike Festival

Juni
- Festival Computer Indonesia
- Tour de Makassar
- International Water Festival
- Cinta Makassar, Cinta Museum

Juli
- Indi Clothing Festival
- Jazz@Fort Rotterdam
- Festival Internasional Pemuda Olahraga dan Bahari (FIPOB 2011)
- Sandeq Race 2011
- Jambore Daerah Budaya
- Festival Internasional Layang-layang
- Wushu National Championship

Agustus
- Tabligh Akbar dan Salam Ramadhan
- Pasar Raya Ramadhan
- Pemecahan Rekor MuRI Bakar Ikan 2 KM

September
- Makassar Acuracy Waterlanding and Boogie Jumping 2011
- Pertemuan Saudagar Bugis Makassar 2011
- The 3rd Mattalatta Cup
- Smart Anging Mammiri

Oktober
- Makassar Jazz Festival
- Makassar Art Moment
- KTI Expo
- Makassar Great Sale 2011
- Kemilau Batik Nusantara
- Pasar Festival Makassar
- Indonesia Open X-Sport Championship
- International Ecotourism Business Forum
- Festival Seafood Internasional
- Sail Spermonde
- Lagaligo Mystery Expo
- Celebes Fair

November
- Perayaan Hari Jadi 404 Makassar
- Makassar Computer Expo
- Makassar Fair 2011
- 2nd Indonesia Seaweed Forum
- Makassar International Photo Exhibition
- Malaysia, Singapura, Indonesia (Malsindo) Expo
- Trade, Tourism, and Investment Expo
- Festival Losari 2011
- Festival Kuliner Tradisional Makassar 2011

Desember
- Festival Masugi Maraja
- Tallo River Festival
Jadwal kegiatan di atas sebagian akan diinformasikan melalui situs www.indonesia.travel.

Source : www.indonesia.travel

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Museum La Galigo (Benteng Rotterdam)








Museum bersejarah yang terdapat di kota Makassar, Sulawesi Selatan ini diberi nama ‘La Galigo’ atas saran seorang seniman, karena nama ini sangat terkenal di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. La Galigo adalah salah satu putra Sawerigading Opunna Ware, seorang tokoh masyhur dalam mitologi Bugis, dari perkawinannya dengan WeCudai Daeng Risompa dari Kerajaan Cina Wajo. Setelah dewasa, La Galigo dinobatkan menjadi Pajung Lolo (Raja Muda) di Kerajaan Luwu, pada abad ke-14.

      ‘La Galigo’ juga nama sebuah karya sastra klasik dalam bentuk naskah tertulis bahasa Bugis yang terkenal dengan nama Surek La Galigo, dengan panjang 9.000 halaman, dan La Galigo sendiri dianggap sebagai pengarangnya (studi mengungkapkan kemungkinan penulisnya adalah perempuan bangsawan). Isinya mengandung cerita-cerita, tatanan, dan tuntunan hidup orang Sulawesi Selatan dulu, seperti sistem religi, ajaran kosmos, adat-istiadat, bentuk, dan tatanan masyarakat/pemerintahan tradisional, pertumbuhan kerajaan, sistem ekonomi/perdagangan, keadaan geografis, dan peristiwa penting yang pernah terjadi. Naskah ini biasanya dibacakan secara berlagu kepada pendengarnya. Khusus ceritera tokoh Sawerigading, tidak hanya dikenal di daerah Bugis saja, tetapi dapat dijumpai dalam bentuk ceritera lisan di Makassar dan Toraja.

Museum La Galigo menyimpan koleksi sebagai berikut (Ruang 7-10 di lantai dua, Ruang 11-12 di lantai bawah tanah):
  • Ruang 1: maket Benteng Ujung Pandang, benda-benda/bahan bangunan benteng, peta lokasi benteng Kerajaan Gowa, foto-foto Gedung yang dpugar
  • Ruang 2: lukisan prasejarah, alat batu prasejarah, koleksi arkeologi
  • Ruang 3: koleksi dari masa prasejarah, lukisan, sistem penguburan megalitik
  • Ruang 4: gudang
  • Ruang 5: koleksi numismatika dan arkeologi
  • Ruang 6: koleksi etnografi
  • Ruang 7: koleksi Kerajaan Sawitto; Kerajaan Wajo, Mandar, dan Tana Toraja; foto-foto pahlawan nasional dan Sulawei Selatan
  • Ruang 8: koleksi Kerajaan Luwu
  • Ruang 9: koleksi Kerajaan Bone
  • Ruang 10: koleksi Kerajaan Gowa
  • Ruang 11 dan Ruang 12: keramik asing dan peta lokasi penemuan keramik asing di Sulawesi Selatan.

Gedung No.10, terletak di sebelah selatan, terdiri dari tiga lantai dengan susunan penataan pameran sebagai berikut (Ruang 3-5 di Lantai II):
  • Ruang 1 (Kebaharian): peta topografi, suku bangsa Sulawesi Selatan; miniatur perahu pinisi, patorani, palari, bahan pembuatan perahu, dll
  • Ruang 2: bagang, roppong, alat penangkap ikan; perahu lambo, palari, bendi, dll
  • Ruang 3 (Teknologi Tradisional): alat pertanian tradisional; lesung dari Raja Tolo Jeneponto; alat pengolahan sagu, gula merah, alat rumah tangga, musik tradisional anjong bola, dll
  • Ruang 4 (Tenun Tradisional): alat penempaan besi dan hasil-hasilnya; alat proses pembuatan benang, lungsi; perangkat tenun tradisional; berbagai hasil tenunan dan pakaian adat Sulawesi.
  • Ruang 5 (Pakaian Pengantin dan Pelaminan): pakaian pengantian adat suku bangsa di Sulawesi Selatan; pelaminan

Source : www.indonesia.travel

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tongkonan: Rumah Adat Toraja yang Mengagumkan Penuh Makna


Inilah salah satu bentuk kearifan lokal mengagumkan produk rumah adat di Indonesia. Tongkonan adalah rumah khas masyarakat Tana Toraja di Sulawesi Selatan. Hingga saat ini rumah unik tersebut bersama budaya Tana Toraja lainnya menjadi daya tarik wisata dan terus menerus diminati pelancong.
Tongkonan adalah rumah adat dengan ciri rumah panggung dari kayu dimana kolong di bawah rumah biasanya dipakai sebagai kandang kerbau. Atapnya rumah tongkonan dilapisi ijuk hitam dan bentuknya melengkung persis seperti perahu telungkup dengan buritan. Ada juga yang mengatakan bentuknya seperti tanduk kerbau. Sekilas mirip bangunan rumah gadang  di Minang atau Batak.
“Ada nuansa unik dari rumah tongkonan yang luar biasa sekaligus bersahaja, perhatikan tumbuhan hijau yang ada di atas atapnya justru memperindah tampilan rumah adat ini.”
Semua rumah tongkonan yang berdiri berjejer akan mengarah ke utara. Arah tongkonan yang menghadap ke utara serta ujung atap yang runcing ke atas melambangkan leluhur mereka yang berasal dari utara. Ketika nanti meninggal mereka akan berkumpul bersama arwah leluhurnya di utara.
Berdasarkan penelitian arkeologis, orang Toraja berasal dari Yunan, Teluk Tongkin, Cina. Pendatang dari Cina ini kemudian berakulturasi dengan penduduk asli Sulawesi Selatan. Kata tana artinya negeri, sedangkan kata toraja berasal dua kata yaitu tau (orang) dan maraya (orang besar atau bangsawan). Kemudian penggabungan kata-kata tesebut bermakna tempat bermukimnya suku Toraja atau berikutnya dikenal sebagai Tana Toraja.
Tongkonan berasal dari kata tongkon yang bermakna menduduki atau tempat duduk. Dikatakan sebagai tempat duduk karena dahulu menjadi tempat berkumpulnya bangsawan Toraja yang duduk dalam tongkonan untuk berdiskusi. Rumah adat ini mempunyai fungsi sosial dan budaya yang bertingkat-tingkat di masyarakat. Awalnya merupakan pusat pemerintahan, kekuasaan adat, sekaligus perkembangan kehidupan sosial budaya masyarakat Toraja.
“Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual adat yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual mereka. Oleh karena itu, semua anggota keluarga diharuskan ikut serta sebagai lambang hubungan mereka dengan leluhur.”
Masyarakat Toraja menganggap rumah tongkonan sebagai ibu, sedangkan alang sura (lumbung padi) sebagai bapak. Tongkonan berfungsi untuk rumah tinggal, kegiatan sosial, upacara adat, serta membina kekerabatan. Bagian dalam rumah dibagi tiga bagian, yaitu bagian utara, tengah, dan selatan. Ruangan di bagian utara disebut tangalok yang berfungsi sebagai ruang tamu, tempat anak-anak tidur, serta tempat meletakkan sesaji. Ruangan sebelah selatan disebut sumbung, merupakan ruangan untuk kepala keluarga tetapi juga dianggap sebagai sumber penyakit. Ruangan bagian tengah disebut Sali yang berfungsi sebagai ruang makan, pertemuan keluarga, dapur, serta tempat meletakkan orang mati.
Mayat orang mati masyarakat Toraja tidak langsung dikuburkan tetapi disimpan di rumah tongkonan. Agar mayat tidak berbau dan membusuk maka dibalsem dengan ramuan tradisional yang terbuat dari daun sirih dan getah pisang. Sebelum upacara penguburan, mayat tersebut dianggap sebagai ‘orang sakit‘ dan akan disimpan dalam peti khusus. Peti mati tradisional Toraja disebut erong yang berbentuk kerbau (laki-laki) dan babi (perempuan). Sementara untuk bangsawan berbentuk rumah adat. Sebelum upacara penguburan, mayat juga terlebih dulu disimpan di alang sura (lumbung padi) selama 3 hari.
Lumbung padi tersebut tiang-tiangnya dibuat dari batang pohon palem (bangah) yang licin, sehingga tikus tidak dapat naik ke dalam lumbung. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari  yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara.
“Ukiran khas Toraja bermakna hubungan masyarakat Toraja dengan pencipta-Nya, dengan sesama manusia (lolo tau), ternak (lolo patuon), dan tanaman (lolo tananan). Ukiran tersebut digunakan sebagai dekorasi eksterior maupun interior rumah mereka.”
Saat Anda melihat rumah adat ini, ada ciri lain yang menonjol yaitu kepala kerbau menempel di depan rumah dan tanduk-tanduk kerbau pada tiang utama di depan setiap rumah. Jumlah tanduk kepala kerbau tersebut berbaris dari atas ke bawah dan menunjukan tingginya derajat keluarga yang mendiami rumah tersebut. Di sisi kiri rumah yang menghadap ke arah barat dipasang rahang kerbau yang pernah di sembelih. Di sisi kanan yang menghadap ke arah timur dipasang rahang babi.    
“Ornamen tanduk kerbau di depan tongkonan melambangkan kemampuan ekonomi sang pemilik rumah saat upacara penguburan anggota keluarganya. Setiap upacara adat di Toraja seperti pemakaman akan mengorbankan kerbau dalam jumlah yang banyak. Tanduk kerbau kemudian dipasang pada tongkonan milik keluarga bersangkutan. Semakin banyak tanduk yang terpasang di depan tongkonan maka semakin tinggi pula status sosial keluarga pemilik rumah tongkonan tersebut.”
Ornamen rumah tongkonan berupa tanduk kerbau serta empat warna dasar yaitu: hitam, merah, kuning, dan putih yang mewakili kepercayaan asli Toraja (Aluk To Dolo). Tiap warna yang digunakan melambangkan hal-hal yang berbeda. Warna hitam melambangkan kematian dan kegelapan. Kuning adalah simbol anugerah dan kekuasaan ilahi. Merah adalah warna darah yang melambangkan kehidupan manusia. Dan, putih adalah warna daging dan tulang yang artinya suci.
Ada beberapa jenis rumah adat togkonan, antara lain  tongkonan layuk (pesio'aluk),  yaitu tempat menyusun aturan-aturan sosial keagamaan. Tongkonan pekaindoran (pekamberan atau kaparengngesan), yaitu berfungsi sebagai tempat pengurus atau pengatur pemerintahan adat. Ada juga batu a'riri yang berfungsi sebagai tongkonan penunjang yang mengatur dan membina persatuan keluarga serta membina warisan.
Tongkonan milik bangsawan Toraja berbeda dengan dari orang umumnya. Yaitu pada bagian dinding, jendela, dan kolom, dihiasi motif ukiran yang halus, detail, dan beragam. Ada ukiran bergambar ayam, babi, dan kerbau, serta diselang-seling sulur mirip batang tanaman.
Menurut cerita masyarakat setempat bahwa tongkonan pertama itu dibangun oleh Puang Matua atau sang pencipta di surga. Dulu hanya bangsawan yang berhak membangun tongkonan. Selain itu, rumah adat tongkonan tidak dapat dimiliki secara individu tapi diwariskan secara turun-temurun oleh marga suku Toraja.
Rumah tongkonan rata-rata dibangun selama tiga bulan dengan sepuluh pekerja. Kemudian ditambah proses mengecat dan dekorasi satu bulan berikutnya. Setiap bagian tongkonan melambangkan adat dan tradisi masyarakat Toraja.
“Bayangkan bahwa rumah adat ini dibangun dengan konstruksi yang terbuat dari kayu tanpa menggunakan unsur logam sama sekali seperti paku. Ada kepercayaam, kebanggaan, tradisi kuno, dan peradaban dari setiap detail rumah tongkonan yang dibangun masyarakat Toraja, Jadi tidak bisa sembarangan membangunnya.”
Rumah adat tongkonan akan terus dibangun dan didekorasi ulang oleh masyarakat Toraja. Hal itu bukan karena alasan perbaikan tetapi lebih untuk menjaga gengsi dan pengaruh dari kaum bangsawan. Pembangunan kembali rumah tongkonan akan disertai upacara rumit yang melibatkan seluruh warga dan tidak jauh berbeda dengan upacara pemakaman.

Transportasi
Anda dapat menemukan rumah mengagumkan ini di Rantepao, Tana Toraja. Dari Maskassar tersedia bus tujuan Rantepao seperti Litha dan Bintang Timur. Tiketnya seharga Rp80.000,00 hingga Rp100.000,00 per orang.

Source : www.indonesia.travel

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS